Hari ini suami saya sedang shaum sunnah. Kami masih berada di jalan ketika adzan Maghrib hampir berkumandang. Beli es kelapa, kata suami saya sambil meminggirkan sepeda motornya ke dekat penjual es kelapa muda. Saya langsung turun dari boncengan dan memesan sebungkus es kelapa muda.
Karena ingin kebagian pahala berpuasa, saya membayar sebungkus es kelapa muda tersebut dengan uang saya sendiri (info aja, saya termasuk orang yg 'hemat' dan manja-manja gimanaaa gtu yah, mau beli garam aja suka minta uang suami. Makanya suatu peristiwa langka jika hari ini saya bersedia membelikan suami saya es kelapa muda secara gratis, hehe).
Ketika akhirnya waktu buka puasa tiba, es kelapa saya lah yang pertama kali membasahi kerongkongan suami saya. Raut kebahagiaan terpancar dari wajah suami saya, kebahagian khas orang berbuka puasa. Bersamaan dengan itu hati saya bergetar. Begini rasanya, senang dan haru, bisa 'memberi makan' orang berpuasa.
Apa kabar rasanya hati suami saya yang sebulan lalu full memberi makan kami sekeluarga yg sedang berpuasa? Apa kabar suami-suami di seluruh dunia yang setiap hari menafkahi keluarganya? Masyaalloh... Selamat menikmati jamuan pahala Alloh dengan menjadi suami. Menjadi suami yang mau berpayah-payah untuk memberi makan keluarganya dengan rejeki yang halal dan baik. Rejeki yang halal dan baik. Semoga keberkahan selalu mengalir atas rejeki yang kau persembahkan untuk istrimu, anakmu, kerabatmu, dan semua orang yang lewat tanganmu lah rejekinya hari itu.
Proud of you.. 💪💪💪
Rabu, 12 Juli 2017
Minggu, 09 Juli 2017
His First Iqomah
'De, nanti komat ya...' pinta saya sambil membenarkan letak kopyah Naizar (komat = iqomah.. entah kenapa bacanya jadi komat). Naizar tampak ragu.
'Nanti Ibu ngedengerin di rumah, yah?' ujar saya antusias. Naizar tersenyum
'Iya, Bu...' ujarnya sambil berlari menyusul Zaid dan Abi nya yang sudah terlebih dulu berjalan menuju mesjid.
Terdengar Abi nya Naizar mulai mengumandangkan adzan. Saya menyimak dari speaker mesjid. Sedetik setelah adzan berakhir, terdengarlah suara kecil Naizar.
'Allohuakbar Allohuakbar, ashadualla illa hailalloh..' Jep. Hening. Cuma sampai situ. Lho? Kenapa berhenti? Ah mungkin Naizar lupa kelanjutannya atau microphonenya rusak jadi suaranya tak terdengar, pikir saya saat itu. Beberapa menit kemudian, terdengar iqomah ulang yang diserukan oleh orang dewasa. Bukan oleh Naizar.
Akhirnya sholat berjamaah selesai, Naizar kembali ke rumah dengan muka ditekuk. Saya menyambutnya penuh semangat.
'Ih, Dede.. barusan ibu ngedengerin, Dede komatnya baguuusss...' Naizar tersenyum hambar. 'Eh, tapi kenapa komatnya cuma sepotong?'
'Dede salah, orang-orangnya pada solat sunnah dulu, jadi Dede engga jadi komat nya...' jelasnya masih dengan muka sedih. Haha, itu rupanya. Mungkin Naizar tadi terlalu semangat utk iqomah, karena tau saya menyimak dari rumah. Tapi saking semangatnya, ketika adzan selesai Naizar langsung iqomah, padahal jamaah hendak sholat sunnah terlebih dahulu. Mungkin ada yang 'menghardik' Naizar sehingga dia bersedih dan tak mau melanjutkan iqomahnya.
'Oh, iya, ada yang mau sholat sunnah dulu ya, jadi kayaknya kalo habis adzan engga langsung komat ya, nunggu dulu yang mau solat sunnah, atau yang masih di rumah. Kan misal ada orang yang baru ngedenger adzan, trus baru berangkat ke mesjid, jadi kita tungguin dulu ya?' ujar saya. Saya berusaha tak tampak menggurui Naizar, agar Naizar tak 'pundung' lagi.
'Iya, biar jamaahnya banyak..' ujarnya 'Tapi Dede dosa ga, Bu, tadi malah komat?'
'Engga apa-apa, kan Dede engga tau, sekarang Dede udah tau, jadi nanti kalo udah adzan, engga langsung komat, tunggu dulu sebentar biar orang-orang sholat sunnah dulu. Ya?' Naizar tersenyum. 'Jadi nanti Dede mau komat lagi ga?' Naizar mengangguk mantap.
Alhamdulillah...
Kenang-kenangan mudik dari rumah Embah.
Minggu, 28 Mei 2017
Beda Zaman
Saya hampir terlelap ketika teringat saya belum menyiapkan buku pelajaran untuk Zaid sekolah besok. Hhh.. dgn sedikit memaksakan diri saya menuju ruang belajar, menyiapkan buku pelajaran sesuai jadwal pelajaran, menyiapkan kotak pensil dan memasukkannya ke dalam tas putra sulung saya itu.
Ckckck.. anak zaman sekarang ya, udah mau naik ke kelas 2 tapi buku masih harus disiapkan oleh orang tuanya. Zaman saya dulu, udah mandiri, Cuuy... Ibu saya dulu cukup sekali memberikan pengarahan, selanjutnya saya yang mengatur. Beres.
Eh, tapi kan itu zaman dulu ya, Bun... Kita beda zaman. Bener, Bun, kita sama anak kita sekarang udah beda zaman. Zaman saya dulu, saya cukup bawa 1 buku tulis, bikin telor-teloran bulet-bulet dan bikin angka 1 ngejejer semuanya di 1 buku yang sama (nah, ketauan kan, saya jadul banget, tua.. :D ). Sedangkan Zaid sekarang, sekolahnya udah lebih dari 5 mata pelajaran, tentu saja tiap pelajaran harus beda buku, dan saya harus terus mendampingi, setidaknya membantunya menyiapkan buku pelajaran untuk esok hari.
Saya juga pernah berpikir, anak sekolah sekarang enak bener, tiap hari anter jemput sekolah. Zaman saya dulu udah mandiri, pulang pergi sendiri. Lah.. kan beda zaman, dulu zaman saya yang punya sepeda motor baru satu dua orang, jalanan masih lenggang, aman. Sekarang satu keluarga ada 5 orang, lima lima nya punya motor, belum mobilnya. Gimana jalanan ga macet, gimana kita ga khawatir kalau anak kita pulang pergi sendiri.
Jangan mengumpat jika gaya bicara anak kita sudah lebih dewasa dari usianya, udah ngerti pacaran dan lain-lain. Lah Emaknya aja hobi nonton Sinetron dari pagi sampe pagi lagi. Gimana ga nimbrung tu anak. Zaman dulu dari sekampung cuma 1 rmh yang punya tv. Ketika jam nya Si Unyil atau Ria Jenaka anak-anak akan berbondong-bondong menghampiri rumah tetangga yang punya tv, lalu berteriak dengan dialek khas : NGIRING NONGTOON... (ikut nonton tv, Bahasa Sunda)
Jadi berhenti membandingkan sesuatu yang memang beda perbandingannya ya, Bun. Kita hidup di zaman yang memang segala sesuatu bisa diakses hanya dengan dua jempol via handphone. Selamat menikmati teknologi untuk lebih memperbaiki kehidupan. Jangan terlena, belajar dan terus perbaiki.
Buku Zaid sudah saya siapkan. Mata saya sudah minta jatah terpejam. Selamat malam...
Senin, 29052017
Ditulis sebagai pengingat untuk diri saya sendiri.
*
Jumat, 26 Mei 2017
Permohonan Maaf buat Zaid
Menerima informasi dari grup WhatsApp sekolahnya Zaid, akan ada kunjungan edukasi dan jalan-jalan bersama orang tua. Saya cek tanggal pelaksanaan, pas tanggal sibuk, saya tak bisa meninggalkan pekerjaan.
Saya hubungi wali kelasnya Zaid, meminta maaf sekaligus menitipkan Zaid karena saya blm bisa mendampingi Zaid pada acara tersebut.
Malam hari sebelum hari H saya menyiapkan segala keperluan Zaid, diselingi pesan-pesan khas orang tua.
"... baju basahnya masukin ke kresek. Kresek ada di kantong sebelah kiri. Kalo Kakak pusing di jalan, kayu putih dan tisu ada di kantong sebelah kanan.. " Zaid mengangguk "Mainnya jangan terlalu jauh, Kakak harus bisa ngeliat Ibu Guru ada dmn.. bla.. bla.. bla.. "
Esok harinya, Zaid mengikuti acara dan saya pergi ke kantor seperti biasa. Semoga lancar, Nak... Maaf Ibu belum bisa mendampingi.
Sore hari sepulang kerja, Zaid menyambut saya.
"Ibu.. Kakak minta maaf.." katanya dengan raut muka bersalah.
"Kenapa, Sayang?"
"Kakak engga tau, klo jalan-jalannya harus sama orang tua. Tadi temen-temen Kakak ibunya pada ikut. Kakak engga bilang sama Ibu, jadi Ibu engga ikut... "
Deg. Saat itu rasanya jantung saya berhenti berdetak. Ada rasa bersalah menyembul di dalam hati. Engga, Nak, Zaid engga salah. Ibu tau kalo orang tua boleh ikut, tapi Ibu ada pekerjaan yang tak bisa Ibu tinggalkan. Akhirnya saat itu saya memilih untuk tak mengatakan hal yang sebenarnya. Mohon maaf ya, Nak..
"Oh ya udah, ga apa-apa, kan Kakak ga tau, nanti lain kali kita jalan-jalan berdua sama Ibu. Okey?"
"Okey, Bu." Zaid berubah sumringah
"Toss dulu dong.. " Kami saling mengadukan telapak tangan.
Esok harinya, percakapan dengan Zaid semalam masih saya ingat. Pun wajah sedihnya karena merasa atas kesalahannyalah saya tak ikut menemaninya. Jika suatu saat ketika Zaid sudah besar dan bisa membaca tulisan ini, semoga Zaid bisa memaafkan Ibu. Mohon maaf ya, Nak, Ibu pasti akan menebusnya.
Ya, saya berjanji suatu hari saya akan menebusnya. Janji itulah yang membuat saya menandatangani surat cuti pagi hari ini. Yuk, Nak.. kita jalan-jalan, berdua saja..
Saya hubungi wali kelasnya Zaid, meminta maaf sekaligus menitipkan Zaid karena saya blm bisa mendampingi Zaid pada acara tersebut.
Malam hari sebelum hari H saya menyiapkan segala keperluan Zaid, diselingi pesan-pesan khas orang tua.
"... baju basahnya masukin ke kresek. Kresek ada di kantong sebelah kiri. Kalo Kakak pusing di jalan, kayu putih dan tisu ada di kantong sebelah kanan.. " Zaid mengangguk "Mainnya jangan terlalu jauh, Kakak harus bisa ngeliat Ibu Guru ada dmn.. bla.. bla.. bla.. "
Esok harinya, Zaid mengikuti acara dan saya pergi ke kantor seperti biasa. Semoga lancar, Nak... Maaf Ibu belum bisa mendampingi.
Sore hari sepulang kerja, Zaid menyambut saya.
"Ibu.. Kakak minta maaf.." katanya dengan raut muka bersalah.
"Kenapa, Sayang?"
"Kakak engga tau, klo jalan-jalannya harus sama orang tua. Tadi temen-temen Kakak ibunya pada ikut. Kakak engga bilang sama Ibu, jadi Ibu engga ikut... "
Deg. Saat itu rasanya jantung saya berhenti berdetak. Ada rasa bersalah menyembul di dalam hati. Engga, Nak, Zaid engga salah. Ibu tau kalo orang tua boleh ikut, tapi Ibu ada pekerjaan yang tak bisa Ibu tinggalkan. Akhirnya saat itu saya memilih untuk tak mengatakan hal yang sebenarnya. Mohon maaf ya, Nak..
"Oh ya udah, ga apa-apa, kan Kakak ga tau, nanti lain kali kita jalan-jalan berdua sama Ibu. Okey?"
"Okey, Bu." Zaid berubah sumringah
"Toss dulu dong.. " Kami saling mengadukan telapak tangan.
Esok harinya, percakapan dengan Zaid semalam masih saya ingat. Pun wajah sedihnya karena merasa atas kesalahannyalah saya tak ikut menemaninya. Jika suatu saat ketika Zaid sudah besar dan bisa membaca tulisan ini, semoga Zaid bisa memaafkan Ibu. Mohon maaf ya, Nak, Ibu pasti akan menebusnya.
Ya, saya berjanji suatu hari saya akan menebusnya. Janji itulah yang membuat saya menandatangani surat cuti pagi hari ini. Yuk, Nak.. kita jalan-jalan, berdua saja..
Ditulis sebagai permohonan maaf Ibu untuk Zaid yang sholeh
***
Kamis, 09 Maret 2017
Sekotak Cinta Buat Bapak
"Pa, iraha nyandak kueh deui?" (Pak, kapan bawa kue lagi) tanya saya pada Bapak
"Ke mun aya rapat deui" (nanti kalo ada rapat lagi) jawab Bapak saat itu, jawaban yg cukup membuat anak kecil seperti saya tersenyum puas sekaligus penuh harap.
Ribuan hari setelah hari itu. Hari ini kurang lebih saya ada di posisi Bapak, duduk dalam sebuah rapat dengan sekotak snack. Pasti Bapak dulu seperti ini, merelakan sekotak snack miliknya untuk dibawa pulang, demi menyaksikan putri kecilnya tersenyum riang menyambut kepulangan Bapak. Kepulangan Bapak dengan sekotak kue. Dulu Bapak memberi saya sekotak kue, hari ini saya akan menggantinya dengan sekotak doa, semoga Bapak selalu sehat dan dipanjangkan umurnya.
Ribuan hari setelah hari itu. Hari ini saya merasakan apa yang dulu Bapak rasakan. Saya membuka kotak snack di hadapan saya, isinya 4 potong kue. Saya makan sepotong kue, sekedar pengganjal perut. Sisanya akan saya bawa pulang, seperti Bapak dulu. Agar ada senyuman bahagia ketika anak-anak bertanya "Ibu, bawa kue apa?"
***
Foto : http://kuebasahbogor.blogspot.co.id
Selasa, 07 Maret 2017
Bu, Kakak Sudah Meninggal?
Suatu sore ditengah kesibukan memasak sambil menemani Zaid belajar untuk UAS besok. Zaid berdiri di belakang saya yang mulai menumis bumbu.
"Jadi, alat utama untuk berwudhu itu air, kalo ga ada air bisa pake debu, atau kayu, atau batu..." ujar saya mengulang materi yang akan diujiankan besok.
"Iya." jawab Zaid. "Jadi wudhunya pake air, kalo ga ada air pake apa, Bu?"
"Debu.." jawab saya
"Kalo ga ada debu?"
"Pake kayu..."
"Klo ga ada kayu?"
"Pake batu."
"Kalo ga ada batu?"
"Pasti ada." jawab saya
"Kalo ga ada semuanya?"
"Pasti ada."
"Kalo ga ada semuanya gimana?" Zaid bersikeras
"Ada, Kak.. kalo ga ada apa-apa namanya udah meninggal." jawab saya dengan nada tinggi. Tumisan saya hangus. Dengan sedikit kesal saya memasukkan potongan sayuran ke dalam penggorengan. Saya lihat Zaid melengos pergi. Ada raut wajah kecewa terlihat di sana. Saya tau Zaid tak puas, tapi juga tak berani mengganggu saya yang masih tampak sibuk. Ah sudahlah..
Malam harinya. Tok..Tok.. pintu kamar saya diketuk, sedetik kemudian wajah polos Zaid muncul di balik pintu.
"Bu...Kalo udah ga ada apa-apa buat wudhu... berarti kakak sudah meninggal ya?" tanya Zaid lemah.
Astagfirulloh... Ya Alloh.. Zaid masih mengingat peristiwa sore tadi. Saya menarik lembut Zaid ke pelukan saya.. Maafkan Ibu, Nak... Maafkan... Ibu tak cukup mempunyai kesabaran sore tadi... Peristiwa sore tadi ternyata begitu berbekas di hati Zaid.
"Jadi ga ada apa-apa buat wudhunya ya?" tanya saya lembut. "Ga ada air? Debu? Kayu? Batu?" Zaid menggeleng. Saya memutar otak. "Emangnya Kakak Zaid lagi ada dimana misalnya?" tanya saya. Zaid melihat sekeliling.
"Misalnya Kakak ada di kamar.." jawabnya. Giliran saya yang melihat sekeliling. Di kamar tidur. Sekilas, memang tak ada air di dalam kamar, juga debu, kayu dan batu, tak ada, semua bersih.
"Oh.. kalo di kamar, Kakak tempelin tangan Kakak ke tembok, di tembok sebenarnya ada debu nya, tapi kecil-kecil, jadi ga keliatan." saya menempelkan kedua telapak tangan Zaid ke dinding kamar.
"Jadi ada debu yah di kamar?" Zaid tampak antusias.
"Iya, ada." saya mengangguk. Sebuah senyuman tersungging di wajah putra sulung saya itu, dia puas. Lalu beranjak kembali ke kamarnya dengan riang. Alhamdulillah... Alhamdulillah...
Ternyata sesederhana itu. Kesederhanaan itu tak tampak karena tadi sore saya tak sabar. Tadi sore saya tak benar-benar meluangkan waktu untuk menemani Zaid. Saya merenung. Saya ingin Zaid 'pintar' seperti saya, tapi saya tak mau repot mentransfer 'kepintaran' tersebut. Saya, mungkin juga ada orang tua lain yang ingin anaknya serba tau, tapi justru malas berbagi pengetahuan.
Sering anak bertanya sesuatu yang menurut kita tak harus ditanyakan. Misalnya, mengapa adik bayi ga ada giginya? Mengapa roda berputar? Mengapa kalo digigit lebah bisa bengkak? Ah, kita malah mematahkan pertanyaan anak dengan hardikan, runtuhlah keingintahuan anak. Kalo kita ga tau ya kita yang harus belajar lagi. Kalo kita menilai imajinasi anak terlalu tinggi, atau tak masuk akal, coba masuklah ke dalam imajinasinya, rasakan apa yang anak rasakan... Imajinasi anak tak terlalu tinggi, hanya pemahamannya saja yang harus kita arahkan. Seperti halnya Zaid tadi. Saya berpikir mana mungkin di lingkungan kita sampai tak ada air debu kayu dan batu sekaligus, saya berpikir Zaid mengada-ada. Tapi setelah saya benar-benar meluangkan waktu, ternyata Zaid benar, maksudnya di dalam kamar. Kamar tidur kami tak ada toiletnya, bersih tak berdebu, juga tak ada kayu ataupun batu.
Terima kasih Zaid sayang, juga putra-putra saya yang lainnya. Selalu ada hal baru yang diajarkan anak setiap hari. Mereka memang putra saya, tapi juga sekaligus guru kehidupan saya. Maafkan Ibu yang selalu tak sabaran, doakan agar bisa jadi Ibu terbaik buat kalian...
*Ditulis dengan cinta sebagai pengingat untuk diri saya sendiri
Terima kasih Zaid sayang, juga putra-putra saya yang lainnya. Selalu ada hal baru yang diajarkan anak setiap hari. Mereka memang putra saya, tapi juga sekaligus guru kehidupan saya. Maafkan Ibu yang selalu tak sabaran, doakan agar bisa jadi Ibu terbaik buat kalian...
*Ditulis dengan cinta sebagai pengingat untuk diri saya sendiri
Minggu, 05 Maret 2017
Kebiasaan Sebelum Tidur
Hehe.. mau cerita nih, kebiasaan 3 jagoan kecil sebelum tidur..
Zaid. Zaid kayaknya senang akan suasana yang adem, bahkan cenderung dingin. Kebiasaannya sebelum tidur adalah ngebolak-balikin bantal atau guling. Ketika bantal atau guling baru dibalik ke satu sisi, maka rasanya akan lebih dingin dari sisi sebelumnya. Tak jarang Zaid menyingkap bajunya hingga sedikit terbuka, lalu mepet ke tembok utk merasakan dinginnya tembok. Nak, Nak.. tau gini Ibu ga usah beli kasur, tidur aja di lantai sekalian... kan dingin tuh...hahaha...
Naizar. Nah, lain lagi dengan Naizar. Sebelum tidur, Naizar punya kebiasaan nyolek-nyolek pipi Emaknya. Sekarang mending cuma sekedar nyolek, kalo dulu tuh nyolek sambil kuku jarinya diteken-teken ke pipi. Aduh, selain sakit, jg akan meninggalkan flek-flek hitam di pipi Emaknya. Itulah alasannya knp wajah saya ga pernah bisa glowing kayak Mbak-Mbak Cantik di iklan kosmetik...beu...
Bilal. Nah, berhubung Bilal mah masih ngeASI, jadi belum ada kebiasaan yang signifikan, hahay. Bilal bisa langsung tidur nyenyak selama 'gentong' ASI nya ada di dekatnya... ups..
Sepertinya kebiasaan-kebiasaan tersebut dilakukan anak untuk mencari kenyamanan sebelum tidur. Macam-macam kebiasaan dilakukan anak, ada yang mungkin sebelum tidur harus digarukin, dikipasin, dibacain dongeng, dan lain sebagainya. Apapun kebiasaannya selama masih dalam batas normal dan tidak ketergantungan, mungkin masih aman ya. Namun jangan lupa, tidur dalam keadaan berwudhu dan miring ke arah kanan adalah salah satu sunnah yang dicontohkan Rasululloh SAW. Smga kita bisa mengamalkannya. Aamiin...
Langganan:
Postingan (Atom)




